Umat Islam tidak akan bisa menjadi baik tanpa adanya dakwah. Firman Allah Q.S. An-Nisa’: 82-83 yang artinya: “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
Al-Quran diturunkan oleh Allah berupa 30 juz dan disampaikan kepada nabi Muhammad dalam waktu yang lama. Kalaupun Al-Quran diciptakan oleh manusia pasti akan banyak pertentangan yang timbul. Dan ternyata manusialah yang menimbulkan perbedaan pendapat dalam memahami Al-Quran. Yang terpenting disini adalah bagaimana kita dalam menyingkapi perbedaan itu.
Sebagai orang beriman kita dituntun untuk hidup dalam satu wadah dalam satu jamaah. Haram diantara kita saling merendahkan, melecehkan, memusuhi, atau bahkan membunuh. Kita harus sadar akan adanya perbedaan itu. Jangan sampai kita merasa yang paling benar, sehingga merendahkan orang lain.
Allah menjamin antara ayat Al-Quran yang satu dengan yang lain tidak saling bertentangan. Manusialah yang membuat perbedaan dalam memahami ayat Al-Quran yang satu dengan yang lain. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui mana yang benar.
Kita boleh berbeda dalam memahami Al-Quran, tapi kalau perbedaan itu semakin besar dan besar, maka segera mungkin kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum terjadi perpecahan dan permusuhan yang nyata. Kalau kita tidak waspada dalam memahami hal ini, kita akan terperangkap. Sesungguhnya antara orang muslim yang satu dengan yang lain itu haram darahnya dan kehormatannya. Siapapun yang melanggar ketetapan Allah akan diancam sebagai penghuni Jahannam.
Melihat saudara-saudara kita sekarang ini harusnya kita merasa prihatin. Karena hanya berbeda gambar dan lambang saja harus menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan golongan yang lain. Kita harus mencontoh sifat yang ditunjukkan oleh Rasulullah yang sangat mulia dan penuh dengan kasih sayang.
Sebanyak-banyak isi Al-Quran yang kita ketahui masih banyak yang belum kita ketahui. Mungkin dari sinilah munculnya perbedaan. Antara orang yang satu dengan orang yang lain, yang menganggap dirinyalah yang paling pintar dan benar. Apabila suatu perbedaan dijadikan alat untuk memusuhi, maka umat Islam ini tidak mungkin dapat bersatu.
Sebagai orang Islam kita harus hidup berjamaah. Dalam jamaah harus ada pemimpin dan umat. Sebagai orang yang beriman kita harus mempunyai keyakinan bahwa keputusan itu dipegang oleh pimpinan tertinggi dalam suatu jamaah. Sedangkan orang munafik dalam memahami ini akan kasak-kusuk yang mana hanya akan menimbulkan kerusakan. Kalau kita berbicara orang munafik janganlah kita melihat di luar tembok. Sangat mungkin sekali orang munafik itu adalah diri kita sendiri. Orang munafik itu dilihat dari lahirnya menerima, sedangkan sebenarnya hatinya berontak. Maka dari itu marilah kita instropeksi diri kita masing-masing.
Pada dasarnya tidak ada orang yang hidup sebebas-bebasnya. Yang ada adalah keterikatan dengan aturan tertentu. Sebagai orang muslim kita mempunyai keterikatan bahwa antara orang muslim yang satu dengan yang lain bagaikan satu tubuh. Apabila kaki kita terluka, maka semua anggota tubuh ikut merasakan terluka, sehingga akan menggerakkan anggota tubuh yang lain untuk mengobatinya.
Sebagai orang Islam kita tidak boleh melangkah semaunya sendiri. Kita punya pemimpin. Pada sejarah zaman Rasul kita ketahui bahwa dalam satu daerah itu ada pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan melenceng dari ajaran Rasulullah. Maka dari itu kita harus mentaati pemimpin kita selama ajakannya tidak melenceng dari ajaran Rasulullah. Kita juga harus berani mengingatkan pemimpin apabila melakukan suatu keasalahan. Dan juga sebagai umat nabi Muhammad kita tidak boleh menurunkan pemimpin kita selama masih berada dijalan Allah. Sesungguhnya tugas pemimpin itu menyampaikan dan menuntun kepada kebenaran, sedangkan umat mempunyai tugas mentaatinya.
